Anda berada disini: Home

Welcome to the Frontpage

Penandatanganan PKS Indigo Venture 2011 antara MetaCare dengan Telkom

Dalam rangka pelaksanaan Program Indigo Venture 2011, pada hari Selasa tanggal 22 November 2011 bertempat di Ruang Rapat N-21, TELKOM R&D Center, dilaksanakan acara penandatanganan Perjanjian Kerjasama TELKOM RDC dengan para Mitra Peserta Indigo Venture 2011. Acara penandatanganan ini dihadiri oleh SGM RDC, Peserta Indigo Venture 2011, SM General Support Divisi Multimedia, dan tim RDC yang terlibat dalam pelaksanaan Indigo Venture 2011. SGM TELKOM RDC Mustapa Wangsaatmadja dalam sambutannya menyampaikan bahwa Program Indigo Venture 2011 difokuskan pada pemberian dukungan ventura dan fasilitas business incubation kepada para creativepreneur dalam pengembangan aplikasi, content dan produk kreatif. Output dari Program Indigo Venture 2011, diharapkan dapat memenuhi kebutuhan penyediaan aplikasi, content dan produk kreatif dalam mendukung portfolio Telecommunication, Information, Media, dan Edutainment (TIME) TELKOM. Mustapa Wangsaatmadja juga menambahkan bahwa selain mendapatkan dukungan pendanaan, para enterpreneur muda pesertai Indigo Venture 2011 ini juga dapat berkolaborasi sebagai bagian dari komunitas Bandung Indigo Center yang sedang dibangun di lantai-4, Menara RDC, yang diharapkan dapat menghasilkan karya-karya inovatif sekaliber Angry Bird dan lainnya.   Perjalanan panjang Progarm Indigo Venture 2011 berawal dari proses seleksi terhadap 26 pemenang Indigo Fellowship 2009 dan 2010 hingga menjadi 5 peserta Indigo Venture 2011. Proses seleksi dan evaluasi meliputi update proposal dan presentasi produk, pembahasan lebih detail mengenai model bisnis dan skema bisnisnya. Lima peserta terbaik yang oleh Dir ITS&S ditetapkan sebagai Peserta Program Indigo Venture 2011 adalah :


Adapun total nilai dari keseluruhan Program Indigo Venture 2011 untuk kelima peserta tersebut diatas adalah sejumlah Rp. 3,2 Milyar. Acara penandatanganan Perjanjian Kerjasama ini ditutup dengan foto bersama Peserta Program Indigo Venture 2011, SGM RDC, SM GS Divisi Multimedia, dan tim RDC yang terlibat dalam pelaksanaan Indigo Venture 2011.



Sumber: http://www.ristinet.com/?ch=7&lang=&n=238
 

Life-Saving Technology Wins 2010 Inaicta Award

Innovations that could help save lives won praise at the 2010 Indonesian Information and Communications Technology Award finals last week.

A team from Jakarta’s Bina Nusantara University won the higher education category for a camera application that could help authorities spot security risks, including terrorists.

The application, called “Jabbing,” alerts camera operators when objects or people stay idle for a pre-determined amount of time, said Fredy Purnomo, the team’s project adviser.

He said “Jabbing” was designed for closed-circuit TV networks monitoring crowded public areas like lobbies or airports that were vulnerable to attack.

Meanwhile, developers from Bandung were honored for hospital management software called MetaCare, which won the open source category at the awards, also known as Inaicta.

The program keep track of the goings-on at hospitals “from accounting, logistics, and human resources, all the way to supply chain management,” designer Aries Setiabudi told the Jakarta Globe on Friday.

The software has already been adopted by 19 health care facilities operated by state energy company PT Pertamina.

The development team also included Hendrik Saragih, Syafikli Musyafako, Nurdiansyah Ehsan and Mohammad Reza Kamarullah.

Other innovations honored at Inaicta included a maze-solving robot, a collaborative e-business system and an automatic resume and meeting minutes system.

Inaicta, held annually by the Ministry of Communications and Information Technology since 2007, aims to bridge the gap between the research community and businesses or end-users. (Ismira Lutfia)

Source from: thejakartaglobe.com

 

Mendukung Dunia Kesehatan Lewat Open Source

Sistem informasi manajemen (SIM) juga diperlukan oleh rumah sakit atau lembaga kesehatan guna melancarkan layanan mereka kepada pasien. Salah satu SIM rumah sakit yang menarik adalah MetaCare yang berbasis open source software (OSS).

MetaCare dikembangkan oleh sebuah perusahaan software asal Bandung, PT Metasistem Solusi. Menurut Aries Setiabudi, CEO Metasistem Solusi, pihaknya memang sengaja mengembangkan MetaCare menggunakan OSS. Pasalnya, mereka merasa prihatin dengan banyaknya aplikasi kesehatan yang harga lisensinya mencapai milyaran rupiah. Apalagi, pasar untuk aplikasi-aplikasi tersebut dibanjiri oleh produk impor.

“Selain harganya mahal, mayoritas aplikasi tersebut mengadopsi lisensi closed source atau propietary software,” ungkap Aries. Menurutnya, kondisi itu sangat merugikan pengguna sistem aplikasi karena membuat mereka menjadi sangat bergantung kepada vendor.

Masih ada kelemahan lain dari proprietary software. “Yang memprihatinkan adalah, lemahnya audit IT atas sistem informasi yang digunakan karena tertutupnya akses terhadap kode sumber (source code) program aplikasinya,” kata Aries. Karena alasan itulah, dia dan timnya berinisiatif membangun aplikasi layanan kesehatan berbasis OSS.

Kampanye Pemanfaatan OSS

Aries mengembangkan MetaCare bersama rekan-rekannya, Hendrik Saragih, Ihsan Nurdiansyah, dan Syafikli Musyafako. Sejak September 2009, tim mereka ikut dibantu oleh Muhammad Reza Kamarullah. Memang, sejak 1999, perusahaan yang digawangi Aries sudah gencar mengampanyekan pemanfaatan OSS yang terbukti punya lebih banyak keunggulan ketimbang propietary software.

“OSS dapat menekan investasi di sisi software, menekan angka pembajakan software, mendorong proses pembelajaran bagi SDM yang terlibat di setiap tingkatan manajemen, serta mampu mendorong keterbukaan dan kejujuran dalam kerja sama tim,” paparnya.

Itulah sebabnya tim mereka mengembangkan MetaCare—Healthcare Management System menggunakan sistem operasi server Linux/FreeBSD serta peranti development dan deployment seperti PHP, AJAX, Python, dan Apache Web Server. Untuk database server-nya, mereka menggunakan PostgreSQL. “Sistem operasi di server yang kami gunakan adalah Linux/FreeBSD, terutama Ubuntu Linux,” kata Aries.

OSS Jauh Lebih Unggul

Saat ini, kata Aries, MetaCare telah digunakan di jaringan 20 klinik kesehatan di bawah Pertamina Bina Medika Medical Center (PMC). “Dan di seluruh jaringan Rumah Sehat Indonesia—Rumah Zakat Indonesia yang sudah diimplementasikan sejak Januari 2010,” imbuhnya.

Mengenai keunggulan OSS dari sisi implementasi, Aries menyampaikan pengalaman kliennya. “Awalnya pihak PMC akan mengembangkan aplikasinya menggunakan solusi dari Oracle, dengan estimasi biaya sekitar Rp1 miliar,” ujarnya. Dibandingkan dengan implementasi sistem serupa yang berbasis OSS, biaya itu sangatlah tinggi. “Proposal kami hanya memerlukan biaya Rp120 juta untuk masa pengembangan, migrasi, transisi, dan implementasi selama 6 bulan,” tutur Aries. Dari situ bisa dilihat bahwa OSS jauh lebih hemat ketimbang proprietary software.

Bagaimana soal tampilannya? Banyak pengguna komputer mengeluhkan desain aplikasi berbasis OSS yang kurang bersahabat. Karena itu, agar pengguna MetaCare bisa cepat beradaptasi dengan aplikasinya, Aries dan timnya memilih untuk menggunakan teknologi AJAX untuk antarmuka di sisi pengguna (front-end). “Dengan begitu, tampilannya benar-benar mendekati aplikasi berbasis desktop. Tampilan menunya pun kami buat seperti startup menu di Windows,” ungkap Aries.

Keunggulan lain dari OSS ada pada sisi keamanannya. “OSS unggul dalam hal akses ke source code aplikasi, sehingga aplikasinya dapat diaudit untuk memastikan tidak ada malware di dalamnya,” kata Aries. Menurutnya, Linux memang memiliki sistem yang lebih tangguh terhadap serangan virus dan malware—aplagi jika dibandingkan dengan Windows.

Bisa dibilang, akses terhadap source code merupakan hal yang paling diunggulkan oleh OSS. Menggunakan OSS, tak ada lagi alasan bagi pihak pengembang untuk “menyandera” aplikasi buatan mereka. Jika mau, klien—dalam hal ini rumah sakit—dapat mengembangkan sendiri aplikasi yang telah ada.

Untuk memudahkan kliennya, MetaCare juga dilengkapi dengan akses langsung ke repository yang tersedia pada server. “Dengan begitu, klien selalu dapat memantau perkembangan aplikasinya langsung melalui source code,” kata Aries.

Dia dan timnya mengembangkan SIM rumah sakit itu dari nol. Kenapa? “Fleksibilitas dan originalitas adalah tujuan utama kami. Kami ingin MetaCare mampu secara fleksibel diadopsi dan diadaptasikan di lingkungan bisnis layanan kesehatan Indonesia yang cenderung belum terstandardisasi, kecuali format laporannya ke Departemen Kesehatan,” ucapnya.

Sebagai sistem informasi yang cerdas, MetaCare mampu bekerja di lingkungan yang terdistribusi. Aplikasi ini dapat digunakan di beberapa cabang rumah sakit, serta bisa melakukan sinkronisasi antarcabang, dari cabang ke kantor pusat, atau sebaliknya. Keunggulan lainnya, aplikasi MetaCare juga terintegrasi dengan fitur back-office, seperti accounting, keuangan, supply chain management, logistik, serta persediaan dan manajemen aset.

Fungsi yang dimiliki oleh MetaCare juga sudah lengkap. Dari sisi front-end, sistem ini dilengkapi dengan fitur manajemen pasien, catatan medis, daftar layanan dan tarifnya, beserta sistem billing. Sementara di sisi back-end, sistem ini sudah mendukung supply chain management, inventory manajemen aset, sistem akuntansi, sistem administrasi, serta sistem HRD dan payroll. Tak heran, dengan basis OSS, aplikasi ini keluar menjadi juara pertama dalam ajang Indonesia ICT Award (IANICTA) 2010 untuk kategori Open Source Software.

Tantangan

Diakui oleh Aries, banyak tantangan mereka hadapi dalam pengembangan MetaCare. “Tantangan terbesarnya adalah, rendahnya kepercayaan pasar nasional atas mutu aplikasi yang dikembangkan oleh vendor lokal. Padahal, selama ini banyak sekali vendor luar negeri yang melakukan outsourcing ke Indonesia,” paparnya.

Selain itu, masih banyak orang atau lembaga yang menilai bahwa OSS sulit digunakan dan dipelajari. Tantangan lainnya, perlu waktu yang cukup lama untuk melakukan implementasi software berbasisi OSS di kalangan pengguna karena banyak dari mereka sulit melakukan perubahan budaya.

Untuk mempermudah pengguna, MetaCare dirancang agar tidak menuntut sumber daya dan prasarana yang tinggi. “Dengan komputer PC rakitan pun, MetaCare sudah dapat dioperasikan secara optimal,” kata Setiabudi. Dalam waktu dekat, timnya juga akan mengembangkan aplikasi mobile untuk MetaCare. Dengan begitu, sistem MetaCare dapat diakses melalui beragam platform, seperti BlackBerry, Android, Symbian, Windows Mobile, dan iPhone. (Restituta Ajeng Arjanti)

Source from : leadershipqb.com
   

MetaCare - The Winner INAICTA 2010 Kategori Open Source

Pada Malam Penganugerahan INAICTA (Indonesia Information Communication Technology Award) 2010 kemarin, MetaCare - Health Care Management System yang dikembangkan oleh para developer Solusi Rumah Sakit memperoleh penghargaan tertinggi sebagai The Winner untuk Kategori Open Source.

Penghargaan tersebut tentu saja menjadi cambuk bagi Solusi Rumah Sakit untuk semakin maju dan mengembangkan MetaCare di masa yang akan datang.

Dalam mencapai hal tersebut maka Solusi Rumah Sakit dan Metasistem Solusi sebagai holding group akan mengembangkan konsep situs portal yang berbasiskan social networking yang lebih ramah pengguna dan mempererat hubungan baik sebagai komunitas.

Diharapkan situs portal dengan konsep baru tersebut dapat diluncurkan paling lambat pada tanggal 20 Agustus 2010.

Mohon dukungannya supaya target tersebut dapat tercapai.

 

Kunjungi Stand MetaCare di INAICTA 2010

MetaCare sebagai produk open source software unggulan Solusi Rumah Sakit lolos sebagai salah satu nominator juara INAICTA 2010 kategori Open Source Software.

Sebagai salah satu nominator maka MetaCare memperoleh stand di eksebisi INAICTA 2010 pada tanggal 23-24 Juli 2010 bertempat di JCC (Jakarta Convention Center) Jakarta.

Kami tunggu kehadiran Anda di acara tersebut!

   

More Articles...

Page 1 of 2

  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  Next 
  •  End 
  • »
AddThis Social Bookmark Button

Award Winning

 

Silahkan Kontak Kami

Customer Care
Customer Care +628118112696 (Budi)